Agar Geopark Nasional Karangsambung Karangbolong Jadi UNESCO Global Geopark, Hanya Ini yang Dibutuhkan

KARANGSAMBUNG – Presiden Jaringan Geopark Indonesia Budi Martono menilai Geopark Nasional Karangsambung Karangbolong (GNKK) memiliki apa yang dibutuhkan untuk meningkat statusnya menjadi UNESCO Global Geopark (UGG). Yang dibutuhkan tinggal keseriusan dari pihak terkait untuk mengelola dan mewujudkannya.

“Ibarat membuat pakaian sudah ada pola-polanya di Geopark Nasional Karangsambung Karangbolong, kita tinggal menjahitnya saja,” ujar Budi Martono saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion  (FGD) dengan tema “Arah Pengembangan Geopark Karangsambung Karangbolong (GNKK) Menuju UNESCO Global Geopark”  di Balai Informasi dan Konservasi Kebumen (BIKK) Karangsambung LIPI, Kamis, 21 Nopember 2019.

Budi Martono yang juga  General Manager Gunung Sewu UNESCO Global Geopark menjelaskan bahwa geopark bukan sebuah proyek melainkan konsep kawasan. Yakni bagaimana menemukenali hubungan dinamis antar tiga keragaman komponen alam yakni geologi, biologi, dan budaya, upaya menelusuri kembali rekaman jejak sejarah alam selama perioda waktu tertentu.

“Jadi kita harus mengenali kampung sendiri seperti geodiversity, biodiversity dan cultural diversity merupakan warisan alam yang menjadi kekayaan hakiki daerah,” ujar Budi Martono.

Hilangkan Ego Sektoral, Semua Instansi Topang Pengembangan Geopark

Bahwa pengembangan Geopark, kata dia, tidak hanya ditopang oleh satu dinas tertentu melainkan semua instansi memiliki peran masing-masing. Untuk itu perlu menghilangkan ego sektoral agar bisa masing-masing sektor saling mendukung menggarap.

“Warisan geologi, biologi dan budaya sudah ada semua di Geopark Karangsambung Karangbolong. Tinggal keseriusan kita untuk menggarapnya,” tandasnya.

Sebagai konsep pengelolaan sumberdaya alam yang luwes, Geopark dipilih oleh banyak pemerintah daerah menjadi salah satu “alat” pembangunan berkelanjutan yang berpilar pada konservasi, pendidikan, dan penumbuhan nilai ekonomi lokal melalui geowisata dan geoproducts.

FGD yang dipandu oleh Kepala BIKK Karangsambung, Edi Hidayat menghadirkan Guru Besar Antropologi FIB UGM Paschalis Maria Laksono dan dari Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan UNPAD Dicky Muslim.

Prof Paschalis Maria Laksono mamaparkan alam dan interaksinya terhadap pembentukan budaya untuk menunjang pengembangan menuju UNESCO Global Geopark. Sedangkan Dr Dicky Muslim membahas integrasi mitigasi bencana dalam pengembangan dan pengelolaan geopark di Indonesia.

Mitigasi Bencana Jangan Sekadar Jargon, Tetapi Tertanam dalam Jiwa

Dr Dicky Muslim membahas mitigasi bencana di kawasan geopark. Menurut di mitigasi bencana masih sebatas jargon tetapi belum menyentuh aspek kehidupan. Dia mencontohkan Jepang mitigasi bencana sudah tertanam dalam jiwa.

“Sebab di balik keindagan alam di kawasan geopark ada risiko bencana yang menjadi mesin pembunuh massal,” ujar doktot lulusan Jepang tersebut.

Adapun FGD diikuti oleh OPD di jajaran Pemkab Kebumen, Kepala Badan Pengelola GNKK Ir H Djoenedi Fatchurahman MSi, praktisi konservasi, Himpunan Pramuwisata Indonesia, dan pers. Sayangnya hamper semua kepala OPD tidak hadir secara pribadi melainkan mewakilkan. Hanya tampak Kepala Disporawisata Azam Fathoni yang hadir secara pribadi.

Masyarakat Sekitar Geosite Harus Tahu Ilmu Bumi

Pelajar SMPN Sadang mengenal bumi di BIKK Karangsambung, (Foto: Tohri-KebumenUpdate)

Menurut Prof Paschalis Maria Laksono anak-anak di kawasan GNKK sejak sekolah dasar harus sudah dibelajari ilmu bumi. Sehingga masyarakat yang tinggal di kawasan geosite mengetahui ilmu bumi.

Manusia mengatakan tentang alam, merasakannya, membicarakannya, menyimpannya dalam tahu sama tahu (budaya). Dari apa yang mereka tahu sama tahu manusia seara kolektif menetapkan sikapnya dan mengubah alam.

“Ada jarak antara interaksi alami dengan pembentukan budaya. Hubungan antara proses alam dan pembentukan budaya tidak langsung tetapi melalui mediasi sejarah perorangan, kesepakatan (adat) sosial,” katanya. (ndo)